Kargo Udara Global Tertekan Parah, Biaya Melonjak Tajam! Indonesia Justru Punya Peluang Besar Transformasi Logistik
![]() |
| Aktivitas bongkar muat kargo mencerminkan tekanan global dan peluang transformasi sistem logistik nasional di tengah krisis biaya energi. (Foto: BicaraLogistik/pexels) |
BicaraLogistik.com - Industri kargo udara global tengah menghadapi tekanan serius di sepanjang awal tahun 2026. Lonjakan biaya operasional, konflik geopolitik, hingga terganggunya rantai pasok energi global menjadi kombinasi yang membuat sektor ini semakin mahal, terbatas, dan tidak stabil.
Di tengah situasi tersebut, pelaku industri logistik justru mulai mengubah strategi mereka. Bahkan, moda transportasi udara yang selama ini menjadi pilihan utama untuk pengiriman cepat kini mulai ditinggalkan.
Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Association (FIATA) sekaligus Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini menunjukkan perubahan signifikan.
"Kenaikan tarif pengiriman, penerapan fuel surcharge, serta keterbatasan kapasitas menjadi indikator bahwa pasar kargo udara saat ini berada dalam fase yang lebih mahal, terbatas, dan volatil," ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Harga avtur melonjak, permintaan kargo udara anjlok
Salah satu pemicu utama tekanan ini adalah lonjakan harga energi global. Yukki menjelaskan bahwa harga avtur yang sebelumnya berada di kisaran USD 75–87 per barel kini melonjak drastis menjadi USD 175–200 per barel.
Lonjakan ini berdampak langsung pada penurunan permintaan kargo udara global hingga sekitar 22 persen. Bahkan, untuk rute strategis seperti Asia-Eropa, penurunannya mencapai angka 39 persen.
Kondisi ini membuat banyak perusahaan mulai berpikir ulang dalam menentukan moda transportasi logistik mereka.
"Saat ini sejumlah perusahaan mulai mengkaji ulang struktur biaya dan beralih ke alternatif yang lebih efisien, termasuk transportasi laut dan skema multimoda," jelas Yukki.
Peralihan moda logistik jadi tren baru
Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam strategi supply chain global. Moda laut dan darat yang sebelumnya dianggap lebih lambat kini kembali dilirik karena dinilai lebih ekonomis di tengah tekanan biaya.
Namun, pergeseran ini juga membawa konsekuensi. Infrastruktur logistik di berbagai negara, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami tekanan tambahan akibat peningkatan volume distribusi di jalur darat dan laut.
Di Indonesia sendiri, struktur logistik masih didominasi oleh transportasi darat hingga sekitar 90 persen. Kondisi ini membuat sistem distribusi nasional cukup rentan terhadap perubahan global.
Ketika biaya kargo udara melonjak, arus barang otomatis akan beralih ke moda lain, yang berisiko membebani infrastruktur yang sudah ada.
"Pergeseran dari permintaan arus kargo udara ini menjadi peluang bagi para pelaku usaha logistik laut dan darat, namun harus diiringi peningkatan efisiensi operasional dan konektivitas," tambahnya.
Momentum emas transformasi logistik nasional
Di balik tekanan global ini, tersimpan peluang besar bagi Indonesia untuk berbenah. Kondisi saat ini dinilai sebagai momentum penting untuk mempercepat transformasi sistem logistik nasional.
Yukki menekankan bahwa pengembangan sistem logistik multimoda kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Integrasi antara transportasi darat, laut, kereta api, dan udara menjadi kunci menciptakan sistem yang lebih tangguh dan efisien.
Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di Pulau Jawa, juga dinilai masih memiliki potensi besar untuk dioptimalkan sebagai alternatif distribusi yang lebih efisien.
Di sisi lain, perubahan ini juga memengaruhi perilaku pelaku usaha. Para shipper kini semakin sensitif terhadap biaya dan mulai memperpanjang perencanaan supply chain, termasuk dengan meningkatkan buffer stock.
Perusahaan logistik pun dituntut untuk beradaptasi lebih jauh.
"Perusahaan logistik dan freight forwarder dituntut untuk bertransformasi dari sekadar penyedia jasa transportasi menjadi mitra strategis yang mampu menawarkan solusi terintegrasi," jelas Yukki.
Tantangan global, peluang strategis Indonesia
Dinamika yang terjadi di industri kargo udara global bukan hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing sektor logistiknya.
Transformasi yang dilakukan tidak cukup hanya bersifat jangka pendek. Diperlukan langkah strategis jangka panjang untuk membangun sistem logistik nasional yang terintegrasi, efisien, dan adaptif terhadap perubahan global.
"Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya respons jangka pendek terhadap kenaikan biaya, melainkan langkah strategis jangka panjang untuk membangun sistem logistik nasional yang terintegrasi," tutup Yukki.***
.png)